Traveling ke Pulau Weh - Hari Kedua Part 1
Jum’at 14 April 2017
Jam menunjukan pukul 1.20 dini hari. Suara Ariel Noah masih
setia tak henti-henti bernyanyi. Entah sudah berapa kali CD itu berputar
berulang-ulang. Entah perasaan saya aja atau tidak, suara Ariel Noah semakin
lama semakin terdengar sumbang. Hahahaha…
Maklum, hanya itu CD yg ada di mobil rental ini. USBnya tidak berfungsi.
Sudah saya coba mulai dari flashdisk sampai dengan HP juga ga bisa.
Kami sudah melewati kota Langsa. Rezeki anak sholeh/sholeha,
kami belum bertemu dengan yang namanya razia polisi. Lalu Beng terbangun dan
minta ke toilet. Suasana di dalam mobil yg tadinya tenang berubah menjadi
gaduh.. Sesampainya di toilet, kami istirahat sejenak dan saya pun mendapat
giliran menjadi driver dengan target perjalanan Langsa – Pidie. Saya pun mulai
memacu mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Sesekali jarum speedometer
menyentuh angka 125 km/jam. Suatu hal yg agak sulit kl kami jalan di siang
hari. Jalanan relatif banyak yang mulus tetapi
ga jarang kami temui jalan-jalan yg kurang bagus (berlobang/tambalan). Yang
duduk di row bagian belakang, Desi, Wilda dan Beng menjadi korban ketika ban
mobil menghantam lubang besar atau ketika ada jalan-jalan yang bergelombang.
Mudah-mudahan mereka tidak amnesia karena kepala mereka beradu-adu dengan atap
mobil.. Atau ada efek lainnya ?? Jadi + gilaa
Hehehehe..
![]() |
| Pasukan Belum Mandi πππππ |
Tapi memang saya termotivasi supaya kami bisa tiba di Banda
Aceh sepagi mungkin. Saya dan Syita sudah pernah kesana. Rika juga sudah
pernah. Tetapi Desi, Dewi, Wilda, Dedi dan Beng belum pernah. Dengan rencana
perjalanan 2 hari 1 malam di Sabang, saya ragu kami bisa menjelajah spot-spot
yang ada di Pulau Weh dengan puas. Bagi saya, menjelajah Pulau Weh 2 hari 1
malam tidaklah cukup. Tapi apa boleh buat, mendapatkan kesempatan seperti ini
saja, rasanya juga sudah sangat bersyukur.
Sekitar pukul 5.30 kami tiba di Pidie dan berhenti di Masjid
untuk Shalat Subuh. Ga pake lama, setelah Shalat dan berdoa kami melanjutkan
perjalanan. Tiba di Sigli sekitar pukul 7 pagi kembali terjadi pergantian
driver. Kali ini Dedi kembali menjadi driver. Ya, cuma saya dan Dedi aja yg
bisa nyetir.. Beng bisa tapi ngandet2. Bisa ga jelas nanti arah tujuannya,
hahahaha.. Di Sigli, kali ini Desi yg berontak minta ke toilet. Karena perutnya
ga bisa diajak kompromi. Entah sudah berapa SPBU menjadi korban “jejak” kami… Sekalian
kami juga isi bensin.. Jadi isi perut Desi keluar, perut mobil pun terisi. Jadi
imbang.. hahahaha.. O iya, ketika di
Sunggal kami mengisi bensin full tank Rp. 250,000 dan di Sigli kami isi lagi
Rp. 250,000,- full tank.
![]() |
| Dedi kembali beraksi di Sigli |
![]() |
| Jejak Desi tertinggal disini πππ |
Masuk ke daerah Gn. Seulawah, giliran Rika dan Dewi
menunjukkan kebolehannya, yaitu menjadi Dewi Mabuk… Hahahahah Untungnya Dedi
bawa kantong plastik dari g#%&^%^&@# (sensor) sehingga bisa
tertanggulangi dengan baik. Tak lama berselang, Desi pun ikut mabuk.. Hadeeuh..
tapi ya wajar sih. Jalanan di Gn Seulawah memang berliku-liku dan kl yang ga
biasa apalagi kl punya hobi muntah, pasti ga kuat.
Akhirnya sekitar pukul 9 kami tiba di Banda Aceh.. Harapan
naik kapal pertama sirna karena kapal pertama sudah berangkat jam 8 pagi.
Karena ini hari Jum’at, kl ngikutin schedule-nya ada lagi jam 2 siang… Alamak..
Mau nyampe jam berapa di Balohan.
Pelabuhan Ulee Lheue tampak sangat padat. Jam menunjukkan
pukul 9.30. Antrian mobil pun ga begitu jelas urutannya. Sang menteri keuangan
(Rika) turun duluan dari mobil nanya2 info soal tiket nyebrang. Untungnyaaa,
ternyata masih ada kapal yang akan berangkat jam 10 pagi. Tapiiii, mobil ga bs
ikut nyebrang… Kl pun bisa nyebrang nanti jam 4 itupun antrian ke-39 dari 20
antrian yg bisa dibawa kapal… A u in dong (baca : ga mungkin dong).
Setelah menimbang tarif mobil untuk nyebrang pp Rp. 400,000,
akhirnya kami memutuskan untuk menginapkan mobil di Pelabuhan Ulee Lheue (biaya
inap Rp. 20 rb/malam) dan kami nyebrang tanpa membawa mobil sambil ngarep di
Sabang bisa rental mobil semurah mungkin.. Tiket penumpang kelas ekonomi yang
harganya Rp. 27rb pun habis sehingga kami terpaksa beli tiket eksekutif seharga
Rp. 60rb/org. Gpp lah, org bijak pernah berkata, waktu itu lebih mahal daripada
uang. Akhirnya kami masuk kapal sekitar jam 10 pagi dan tidak lama kemudian
kapal mulai berlayar.
Di kapal, setelah kami mendapatkan lapak di ruang eksekutif,
saya dan Syita tetap di lapak. Sementara yang lainnya naik ke geladak kapal.
Mereka asyik berselfie dan berwefie ria disana. Sementara saya dan Syita memang
sengaja ga mau ke geladak karena takut kepanasan.
| Ruang eksekutif |
Dan ga berapa lama mereka pun
kembali ke lapak. Ternyata mereka kelaparan.. Karena kami juga sebenarnya tadi hanya
sarapan dengan cemilan yang kami bawa.. Ga sempat singgah di kedai makan karena
memang ngejar kapal. Kemudian kami membuka bekal makanan yg kami rampok dari
rumahnya Rika.. hihihihi…. Berhubung ga ada meja, kami akhirnya makan lesehan di
ruang eksekutif dengan rusuhnya.. Barulah kami bisa makan nasi dan lauk pauk
yang dibawa (telor sambel, sartika, ayam dikelapain, kerupuk + saos yang konon kata Beng
harganya mahal itu). Eh sudah ada yg tau sartika itu apa belum ???
![]() |
| Jika Aku Menjadi "Beng" Hahahahahaa |
Setelah makan kami kembali ke tempat duduk dan tertidur
karena perjalanan masih sekitar 1 jam lagi.. Dengan menggunakan kapal lambat,
waktu tempuh antara pelabuhan Ulee Lheu – Balohan adalah sekitar 2 jam. Dan
sekitar pukul 12 siang kapal sudah mulai merapat di Pelabuhan Balohan. Energi
kami kembali terkumpul.. Ga sabar untuk berpetualang dan menjelajahi indahnya
pulau Weh.
Bersambung





awak gabung la ke gardam ini hahahahahaha
BalasHapusatur jadwal GTC member sekali kali disumut aja traveling nya , ,, ke pulau salah nama di batubara
BalasHapusBoleh - boleh, Pak Aan.
BalasHapus