Traveling ke Pulau Weh - Hari Kedua Part 2
Akhirnya kapal berlabuh juga di pelabuhan Balohan. Hari
begitu sangat terik. Panasnya suhu saat itu membuat kami seperti dehidrasi. Air
mineral atau es buah/sirop menjadi begitu diidam-idamkan saat itu. Selama di
kapal, Saya dan Desi sibuk menelpon pemilik mobil untuk kami rental dan
akhirnya “deal” dengan salah satu pemilik mobil rental yang nomor HP nya kami
dapatkan dari petugas di Pelabuhan Ulee Lheueu. Kami akhirnya sepakat untuk
menggunakan mobilnya dengan harga Rp. 400 ribu untuk sehari semalam. Tentu saja
itu belum termasuk dengan bensinnya. Saat itu memang musim liburan sehingga
banyak yang memasang harga sewa cukup mahal. Bahkan ada yang memasang harga Rp.
700 – Rp. 800 ribu. Itupun harus dengan supir. Tapi dasar kami nekat, kami coba
aja menantang prediksi-prediksi buruk yang akan terjadi nanti. Dan benar saja,
akhirnya kami mendapatkan mobil rental dengan kapasitas yang lebih luas, yaitu
Inn0v4, lepas kunci. Yesss.. Serah terima kunci mobil berwarna merah itupun pun
berjalan mulus. Cuma jarum penunjuk bensin (fuelmeter) sudah menyentuh yang
paling bawah. Artinya kami harus segera mengisi bensin. Sementara jarak dari
pelabuhan Balohan hingga kota Sabang adalah sekitar 12 km. Dan karena saat itu
bertepatan dengan masuknya waktu Shalat Jum’at. SPBU pertama yang kami temui
tutup. Akhirnya kami terus melanjutkan perjalanan kami ke arah kota, berharap
disana banyak SPBU sambil mencari Masjid karena sepertinya masih keburu untuk
menunaikan Shalat Jum’at bagi kami yang laki-laki.
![]() |
| Food Court di Sabang |
| Mamak Gardam 😂 |
Setelah kami makan dan membayar (ya iya lah.. masa’ ga bayar, bisa
dikejar2 pake rencong nanti), kami sempatkan bertanya kepada abang pelayan di
food court itu dimana SPBU terdekat. Si abang itu bilang, “dari sini turun
terus ke bawah, ke kanan nanti simpang kedua belok kiri terus aja lurus nanti
di sebelah kiri SPBUnya. Mudah2an masih ada bensinnya.” Waduh, php-in kita nih
si Abang. Tapi ya sudahlah, that is the last chance… Kita nurutin kata si abang dan benar aja
akhirnya ada SPBU yang masih buka dan bensinnya masih ada. Finally, kami
bernafas lega.. Yang lucunya kami pun isinya hanya Rp. 100 ribu saja… Hahahaha…
Maklum, menurut menteri keuangan, Rika beserta staf perpajakan, Wilda, kami
harus cost leadership.. hehehe..
Setelah menimbang arah kami beli bensin searah ke Anoi Itam maka, kami
memutuskan tujuan pertama kami adalah Benteng Jepang, Anoi Itam dan Pantai
Sumur Tiga. Di sepanjang perjalanan kami dibuat takjub dengan
pemandangan-pemandangan indah yang kami temui. Untuk jalannya sebenarnya sudah
beraspal, tapi di beberapa titik ada jalan-jalan yang sudah sedikit rusak. Dan
terkadang ada hewan-hewan ternak yang dengan santainya tiduran di tengah jalan.
Jadi memang harus berhati-hati. Apalagi medannya, banyak ditemui turunan yang sangat curam.
Untung saya sudah pernah kesini jadi sedikit berpengalaman dan hafal beberapa
lokasi wisata di Pulau Weh ini.
Sekitar pukul 3 sore kami tiba di Benteng Jepang. Mobil sudah terparkir
dengan rapi. Tidak ada pungutan biaya untuk masuk ke lokasi wisata ini. Untuk
mencapai Benteng Jepang kita harus jalan naik keatas dengan menapaki anak
tangga. Kami menyempatkan diri mengabadikan gambar di sebuah bangunan yang
katanya dulu adalah tempat ruang tahanan. Dan sekitar beberapa meter dari situ,
akhirnya sampailah kita di benteng Jepang. Benteng Jepang ini sejarahnya dibuat
untuk mengantisipasi serangan musuh yang akan masuk melalui Pulau Weh. Dan
memang bentuk bangunannya persis sekali seperti sebuah benteng pertahanan buat
perang. Yang membuat kami takjub dari tempat ini tentu saja adalah view-nya. Berikut beberapa penampakan
kami di Benteng Jepang, Anoi Itam.
Tiga puluh menit berselang, kami sepertinya masih belum puas berfoto
ria. Tetapi karena tuntutan waktu, akhirnya kami harus segera meninggalkan
Benteng Jepang untuk menuju ke lokasi berikutnya yaitu Pantai Sumur Tiga. Tidak
berapa lama, kami sudah tiba di Pantai Sumur Tiga. Dan lagi-lagi di lokasi ini
kami tidak dikenai biaya apapun. Dan kami mengapresiasinya dengan turut serta
menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan. Pantai ini dinamakan Pantai
Sumur Tiga karena di pantai ini ada tiga buah sumur yang katanya airnya
itu air tawar meski jaraknya begitu dekat dengan bibir pantai . Dan ketika kami
berjalan ke arah pantai kami menemukan salah satu diantaranya. Pantai Sumur
Tiga memang seperti pantai pada umumnya. Cuma oleh karena pasirnya yang putih
ditambah dengan air laut yang biru dan jernih membuat pantai ini begitu
istimewa. Ombaknya juga tidak terlalu kuat, jadi sebenarnya di pantai ini kita
bisa berenang. Karena masih ada destinasi yang akan kami kunjungi lagi,
sehingga kami tidak berenang/mandi di Pantai
Sumur Tiga.
Setelah kami mengabadikan gambar kami yang kece-kece di Pantai Sumur
Tiga, kami segera bergerak menuju destinasi – destinasi wisata di kawasan
wisata Pantai Iboih. Akibat begitu teriknya matahari saat itu, kami dilanda
kehausan hebat lagi. Di pertengahan jalan kami membeli satu kardus air mineral
ukuran 600 ml. Jarak ujung kota Sabang dengan kawasan Iboih sekitar 13 km.
tidak seberapa jauh memang tapi medan perjalanannya semakin seru lagi.
Berliku-liku, banyak tanjakan dan turunan curam dengan medan seperti hutan.
Rika dan Dewi menunjukan kebolehannya lagi. Menjadi Dewi Mabuk.. Di saat
seperti itu, kantong plastik laksana harta yang tak ternilai harganya..
hahahaha.
Tiba di kawasan Iboih, kami dihadapkan beberapa pilihan :
1.
Gua Sarang, sekalian mandi disana karena kami
belum mandi-mandi, cuma baru gosok gigi aja… Jorok yaa hihihi
2.
Pantai Gapang
3.
Tugu 0 km
4.
Pantai Iboih
Atas beberapa pertimbangan diantaranya kami mau segera mandi, akhirnya
kami menjatuhkan pilihan untuk ke Gua Sarang. Kami berharap setelah
mandi di Gua Sarang kami bisa bilas di kamar bilas yang disediakan sebuah rumah
makan di Gua Sarang. Tiba di Gua Sarang, kali ini kami dikenakan biaya masuk
Rp. 5 rb per orang. Sebuah harga yang cukup murah sebenarnya apalagi sekarang
jalan berupa anak tangga untuk menuju ke lokasi telah diperbaiki. Jika Benteng
Jepang kita harus naik ke atas, nah kalau Gua Sarang kita harus turun ke bawah.
Setelah tiba di bawah kita harus jalan lagi menyusuri bebatuan. Disini kita
harus berhati-hati karena kalau kita tidak seimbang, kita bisa jatuh dan bahkan
berakibat fatal. Jalan bebatuan yang kami tempuh adalah sekitar 50 meter. Lelah
memang tetapi rasa penasaran yang disemangati oleh suara debur ombak serta
pemandangan yang luar biasa eksotis, membawa kami terus melangkah menuju spot Gua Sarang. Bagi
yang tidak kuat, sebenarnya bisa juga menyewa boat yang disediakan. Dan inilah
hasil jepretan kami di Gua Sarang :
Di Gua Sarang akhirnya kami bisa main air. Ya cuma berani main air
karena ga berani berenang lantaran ombaknya menyeramkan. Kami ga berani ambil
resiko. Bisa main air aja pun kami sudah seneng banget. Sudah bisa basah dari
ujung kaki sampe ujung rambut. Setelah itu kami harus segera bergegas beranjak
untuk segera melanjutkan perjalanan. Kembali kami harus melewati jalanan
bebatuan dan kalau tadi kami menuruni anak tangga, maka sekarang kami harus
menaiki anak tangga, yang tingginya ituuu… ampuuuunn dehh… Waktu turun sih ga
berasaa…
![]() |
| Tangga menuju ke atas tempat parkir |
Yang pasti bikin air pantai dan keringat makin menyatulah pokoknya…
makin bertambah asin.. hahahaa.. Setelah tiba diatas, saat hendak mau bilas
ternyata air untuk bilas telah habiss… OMG… masuk anginlah kita ini.. Kami
disarankan untuk segera ke tempat penginapan jika memang mau mandi.. Tempat
penginapan ??? Emang nginapnya dimana ? Hehehe.. itu nanti ceritanya yaaa…
Akhirnya dengan langkah gontai gemulai kami kembali masuk ke mobil dan
melanjutkan perjalanan.. Tentu dengan baju yang masih basah kuyup.. Hari sudah
mau gelap, dan kami dihadapkan pilihan, apakah ke tempat penginapan di Iboih
atau ke 0 km mengejar sunset. Setelah dilakukan voting akhirnya pilihan jatuh
untuk ke 0 km terlebih dahulu. Jalanan menuju 0 km dr Iboih kurang lebih sama
tetapi beberapa km sebelum tiba, jalanannya cukup lebar dan aspalnya sangat
bagus. Masuk ke 0 km, karena kami mengendari mobil, kami dikenakan tariff masuk
sebesar Rp. 10 rb. Turun dari mobil kami sudah seperti tikus got, yang baru aja
nyemplung. Sementara wisatawan yang lain kece-kece.. Cuma yaaahh namanya urat
malu sudah disimpan di rumah masing-masing, maka kami juga pede2 aja berfoto
ria di Tugu 0 km. Sayangnya, kami tidak berhasil mengejar sunset, paling
terlambat 5 menit saja.. Di tugu 0 km ini selain banyak yang berjualan makanan,
minuman dan cindera mata ada juga yang menjual sertifikat 0 km. Sertifikat itu
adalah sebagai bentuk pernyataan dan tanda terima kasih dari walikota Sabang
bahwa kita sudah mengunjungi tugu 0 km. Untuk mendapatkan sertifikat 0 km ini,
kita cukup membayar Rp. 20 rb saja.
Karena hari sudah gelap, maka kami kembali ke mobil untuk kembali ke
Iboih mencari penginapan. Mencari penginapan ? Ya mencari penginapan, karena
kami sama sekali belum booking tempat kami menginap. Kami sudah mencoba
cari-cari jauh hari sebelumnya baik melalui situs booking online maupun
referensi dari sahabat namun sepertinya masih kurang cocok. Kami masih berharap
bisa mendapatkan harga semurah mungkin. Kami tiba di Iboih tepatnya di Pantai Teupin Layeu sekitar jam 7 malam, dan karena hari sudah malam, tidak ada
yang meminta biaya masuk. Kalau pagi sampai sore hari biasanya ada yang jaga di
pintu masuk untuk mengutip tariff masuk pantai Iboih. Setelah parkir dan keluar
dari mobil, beberapa orang lokal mendatangi kami menanyakan apakah kami sudah
punya tempat menginap. Tentu saja kami menjawab belum dan mereka menawarkan
tempat penginapan yang mereka punya. Berdalih bahwa saat itu sedang liburan,
mereka bilang bahwa hampir seluruh penginapan sudah penuh dan kalaupun ada
harganya paling murah Rp. 350rb /malam /kamar itupun dengan kipas angin dan
harus 2 kamar dimana laki-laki dan perempuan harus pisah.
Kami menawar kalau kami hanya pakai 1 kamar untuk ber-8 tetapi mereka
menolak. Karena melanggar syariat.. Hmm, masa sih tampang polos2 gini mereka ga
percaya… Ya sudahlah, kami mencari alternatif lain. Di situ kami berpisah.
Dedi, Wilda dan Dewi ke Masjid untuk Shalat sekalian bilas/mandi sementara
saya, Syita, Desi, Rika dan Beng berjalan lebih kedalam untuk mencari
penginapan. Lalu saya teringat tempat
dulu saya dan Syita pernah menyewa peralatan snorkeling. Di Sea Horse namanya.
Akhirnya kami kesana dan berjumpa dengan abang-abang yang dulu pernah saya
kenal. Namanya Bang Riki dan Bang Ridwan. Setelah sedikit ngobrol mencoba
mengingat-mengingat kembali waktu berkenalan dulu, kami mengutarakan niat kami
menanyakan soal tempat penginapan. Dengan helpfull-nya, Bang Riki dan Bang
Ridwan menanyakan tempat-tempat menginap kepada teman-teman mereka. Dan
lagi-lagi, tempat penginapan memang sudah full, dan kalaupun ada harganya jauh
diatas budget kami.
Beberapa menit lagi, waktu akan menyentuh jam 8 malam. Pakaian basah
kami sudah mengering sedikit lembab. Kami belum juga menemukan tempat untuk
menginap. Bayang-bayang kami akan tidur di mobil atau di Masjid (itupun kena
resiko ditegur) semakin kuat. Tidak berapa lama datang seorang penduduk lokal,
laki-laki separuh baya cenderung tua tapi energik dan dandanannya itu lho…
Mirip Hulk Hogan di serial Baywatch. Dia
menawarkan kamar yang tidak jauh dr Sea Horse, ruangannya cukup luas, cocok
untuk 8 orang yang penting sopan dan ber-AC. Ada 2 spring bed dan free 2 buah
extra bed. Wahhh mantap nih… Tapi harganya Rp. 800 rb.. yaaaaahhhh, lemes lagi
deh kite.. Entah karena efek sudah capek + ga punya duit, otomatis muka kami
pun memelas… Seraya menawar Rp. 400rb aja deh Om Jack.. Yaa namanya Om Jack,
lengkapnya Jack Separo… bukan Jack Sparrow yg di Pirates of Caribean yaa..
Hahahaha
Om Jack menolak… Desi
sepertinya tidak menyerah.. Desi gencar melancarkan tawaran mautnya… Sempat
kami ditawarkan kamar yang seharga Rp. 400 ribu tapi tempatnya seperti bangsal..
Di belakang lagi dekat pepohonan… Karena parno, kami menolak.. Dasar tak tau
malu yaaa… Sudah ga punya duit masih milih2.. hahaha… Intinya kami bersikeras
tetap di kamar awal yg harganya Rp. 800rb dan spy cepat deal kami menaikkan
tawaran menjadi Rp. 450 rb. Last offer… Hasilnya ??????????????????? Ditolak…
Wadddduhhh… Kalau mau 600 rb, katanya..
Hmmm sepertinya sdh bisa digoyang nih harganya. Lalu kami menenangkan
diri sejenak, duduk2 di depan Sea Horse.. Kebetulan Bang Riki sedang kedatangan
guest cewek dari Spanyol.. Sepertinya asyik aja ngobrolnya.. Beng, yang lulusan
sastra Inggris, ga mau kalah n coba nimbrung… speak2 English ala kadarnya… Tapi
lumayan lah, yg penting nyambung. Bisa jadi nilai plus buat……………..ehm ehm..
Dari kejauhan sepertinya Om Jack mau datang ke arah kami… Strategi kami
ubah… Kami skrg sok jual mahal… (ya ampun, bener2 ga ada malunya hahahhaha)…
Dan bener aja, doi akhirnya ngasih harga final, Rp. 500rb. Kl kami nolak
katanya doi mau pulang aja.. Ya sudahlah berhubung kami juga sudah “semak”
kali, pengen cepet2 mandi dan istirahat, akhirnya deal Rp. 500rb sehari
semalam, check out paling lama jam 2 siang... Yeeeaaahh akhirnya kami bisa rest
in peace (istirahat dengan tenang dalam arti sebenarnya lho ya)..
Kemudian kami bergegas kembali ke mobil untuk mengambil barang dan
menjemput Dedi, Wilda dan Dewi yang mungkin masih beristirahat di Masjid. Wah
lumayan lama juga mereka nunggunya ya… Di perjalanan dari kamar kami menuju
lokasi parkiran, cukup gelap. Lampu penerangan minim sekali bahkan di beberapa
titik gelap sama sekali. Sunyi dan cenderung seram. Lalu kami melihat sosok2
bayangan manusia di sebuah joglo.. Sosok2 itu hanya diam saja… Bulu kuduk
berdiri. Dengan perlahan kami terus mendekati bayangan itu, dan semakin dekat..
hingga akhirnya kami menyadari bahwa sosok2 itu adalah Dewi, Dedi dan Wilda
yang berniat mau nakut2in kami… hahahaha….
Suasana seram berubah lagi jadi suasana komedi… Apalagi ketika Wilda
cerita dia sempat nanya2 juga kamar tempat menginap yang tarifnya Rp. 50rb… Ada
tapi kamar mayat…. Hahahahaha
Lalu sebelum kami kembali ke penginapan, kami makan malam dengan
mencicipi sate gurita. Harganya Rp. 15 ribu/porsi. Kalau soal rasa, relatif
enak seperti sate lainnya tetapi yang jelas tekstur dagingya lebih lembut
dibandingkan daging ayam, kambing atau lembu.
Setelah makan malam, kami kembali ke penginapan. Di penginapan, kami
yang belum mandi segera mandi dan kemudian Shalat. Dan seperti biasa, antrian
mandi pun berjalan dengan rusuh…
Seakan tidak ingin kehilangan momen-momen yang mungkin akan sulit
terulangi, kami melewati malam dengan ngobrol-ngobrol di tepi pantai. Dinginnya
malam diobati oleh hangatnya kopi aceh.Ditemani oleh Bang Riki, Bang Ridwan dan
Om Jack Sparrow. Bercerita tentang banyak hal, mulai dari yang serius sampai
dengan yang jauh dari kata serius… Mulai dr komedi hingga yang berbau-bau horror.
Meski malam, gelak tawa kami masih begitu kuatnya. Seakan cerita tidak ada pernah
habisnya. Hingga akhirnya kami memaksakan diri untuk segera beristirahat.
Karena besok kami harus bangun lebih pagi untuk snorkeling di pantai Pulau
Rubiah.




Komentar
Posting Komentar